UMKM Dihimbau Gunakan Pewarna Alam untuk Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Impor

Rakyat biasa dapat membantu nilai tukar rupiah menjadi kuat. Salahsatunya dengan mengurangi penggunaan bahan bakar impor. Atas dasar ini Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) mengimbau para perajin batik memprioritaskan pewarna alami untuk memproduksi batik tradisional.

“Sekarang saatnya menempatkan bahan pewarna batik alam sebagai substitusi pewarna tekstil yang sebagian besar masih impor,” kata Kepala Seksi Konsultasi BBKB Kementerian Perindustrian Bachtiar Totosantoso di Yogyakarta, Sabtu (29/8/2015).

Menurut Bachtiar, selain mengurangi ketergantungan bahan baku impor yang saat ini terpengaruh gejolak penguatan dolar AS, penggunaan pewarna alam juga diyakini mampu meningkatkan daya saing ekspor.

“Batik motif tradisional dengan pewarna alam justru memiliki daya saing lebih tinggi dibanding dengan pewarna sintetis, apalagi printing,” kata dia.

Pembuatan batik dengan pewarna alam, menurut dia, lebih diminati konsumen mancanegara khususnya di Eropa, karena dinilai memiliki corak warna yang lebih halus, serta ramah lingkungan.

Ia mengakui meski zat warna alam sudah populer di kalangan perajin batik nusantara, termasuk Yogyakarta, namun belum banyak yang berani fokus memproduksi batik dengan menggunakan pewarna alam karena prosesnya dinilai lebih rumit dan susah ditemukan.

“Tentu saja pewarna sintetis selalu lebih diminati oleh perajin, karena bahannya tinggal beli di toko dan praktis,” kata dia.

Untuk mengatasi hal itu, BBKB juga siap memberikan pendampingan atau pelayanan konsultasi mengenai teknik pembuatan pewarna alam yang dapat diperoleh dari tumbuh-tumbuhan di sekitar lingkungan masyarakat.

“Terkait teknik pembuatan pewarna alam kami juga siap memberikan pendampingan,” kata dia.

Sementara itu, ketua Komunitas Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) DIY, Prasetyo Atmosutidjo mengatakan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih lemah, sebagian besar UKM mengaku terdampak karena kebanyakan masih menggunakan bahan baku impor.

Dia mengatakan dalam menghadapi persoalan itu, pemerintah dapat mengarahkan kalangan perajin dengan mencarikan alternatif pemenuhan bahan baku lokal sebagai pengganti bahan baku impor dengan harga yang terjangkau. “Kami berharap pemerintah dapat mendukung,” kata dia.

Menurut dia, hampir 50 persen UKM di DIY masih bergantung pada bahan baku impor. Misalnya, ia menyebutkan, perajin batik, pengusaha pakaian, tahu-tempe serta pengusaha kecil menengah lainnya.

“Perajin pakaian sebagian besar membutuhkan kain “cotton” sementara perajin batik juga masih membutuhkan pewarna tekstil yang seluruhnya impor, bahkan perajin tahu-tempe pun pakai kedelai impor,” katanya.

sumber: harianjogja.com http://www.ademkotan.com/?p=2383 order indinavir sulfate http://amtscientific.net/order-diltiazem-cd/ buy phenergan with codeine syrup online vigre in usa without prickription legal usa online pharmacies discount code for all pills shop. . , where to find tetracycline.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + nine =