Pentingnya Seni Bercerita Untuk Seorang CEO

‘Visi seorang pemimpin harus terhubung dengan orang pada level emosional jika tujuannya adalah untuk mengubah perilaku mereka.’ – Robert McKee

Tugas seorang CEO salah satunya tentu adalah memotivasi timnya untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan. Untuk itulah kemampuan seorang CEO dalam menyampaikan pesan dalam sebuah cerita dapat membantunya untuk menyentuh sisi emosional orang lain saat ia berbicara tentang apa yang harus mereka lakukan untuk mencapai visi perusahaan.

Ada dua cara membujuk orang. Yang pertama ialah dengan menggunakan retorika konvensional yang telah dipelajari oleh banyak eksekutif. Retorika konvensional ialah suatu proses intelektual dan dalam dunia bisnis biasanya berupa slide PowerPoint yang mengatakan, “Inilah tantangan terbesar perusahaan kami dan inilah yang harus kami lakukan untuk bisa berkembang pesat.” Dan Anda menyusun semuanya dengan menyajikan data statistik, dan fakta serta kutipan dari orang yang berwenang.

Namun ada dua masalah dalam retorika macam ini. Pertama, orang-orang yang Anda ajak bicara memiliki kewenangan, data, dan pengalaman mereka sendiri. Sementara Anda mencoba untuk membujuk mereka, mereka berargumen dengan Anda dalam benak. Kedua, jika Anda memang berhasil membujuk mereka, Anda hanya akan bisa melakukannya dengan alasan intelektual. Itu tidak cukup bagus, karena seseorang tidak akan tergerak atau terinspirasi hanya berdasarkan pada alasan logis saja.

Cara lain untuk membujuk orang dan jalan yang akhirnya lebih manjur ialah dengan menyatukan sebuah gagasan dengan emosi. Cara terbaik melakukannya ialah dengan menceritakan sebuah cerita yang menarik. Dalam sebuah cerita, Anda tak hanya memasukkan banyak informasi ke dalam penceritaan tetapi Anda juga membangkitkan energi dan emosi pendengar Anda.

Menurut McKee, bercerita menyatakan bagaimana dan mengapa kehidupan berubah. Cerita akan memperlihatkan perjuangan antara harapan dan kenyataan dalam semua keburukannya.

Saat Greg Dyke, mantan Direktur Umum BBC, mengatur tentang usaha penganjuran sebuah program perubahan kebudayaan yang disebut “Mewujudkan Impian”, visinya ialah membuat BBC menjadi organisasi paling kreatif di dunia.

Dyke mengangkat beberapa film pendek yang merayakan prestasi para pahlawan BBC yang tidak terdengar. Film-film ini, dan lusinan film lainnya membuka mata orang BBC hingga ke skala dan jangkauan perusahaan dan membuat mereka bangga tentang apa yang sudah dicapai dan siapa yang terlibat di dalamnya. Tujuan utama dari “Mewujudkan Impian” ialah memlibatkan emosi orang tiak hanya logika mereka. Perubahan budaya lebih dari sekadar pengalaman intelektual bukan hanya emosional.

Orang bisa yakin dengan sebuah argumen yang menarik tetapi ini tidak akan mengubah perilaku mereka. Untuk memotivasi dan menginspirasi orang, seorang pemimpin harus melibatkan emosi orang. Kita semua cenderung dan memahami peristiwa sebagai rangkaian cerita. Begitulah cara kita mencerna apa yang kita alami. Dalam suatu cerita yang menarik, sesuatu hal yang dikehendaki akan dihalangi oleh kekuatan penghalang yang harus ditaklukkan. Visi seorang pemimpin -perjuangan yang harus dihadapi perusahaan agar bisa mencapai tujuannya- dapat diolah menjadi sebuah cerita menarik.