rapat perusahaan

Sebuah visi bersifat besar dan jangka panjang, sebuah gambaran keadaan di masa yang akan datang yang ada di benak pemilik atau pimpinan tertinggi perusahaan.

Tanpa kedua aspek tersebut maka dapat dipastikan itu bukanlah sebuah visi. Jangka panjang biasanya mencakup puluhan tahun yang akan datang. Visi bisa datangnya mendadak seperti kilat, namun bisa juga merupakan pergumulan bertahun-tahun. Dalam banyak hal visi juga merupakan ilham atau pewahyuan dari Tuhan jika dan terutama yang menyangkut orang banyak, masyarakat, bahkan bangsa dan negara. Sebuah perjalanan perusahaan dari mulai kecil, kemudian menjadi menengah dan besar tingkat konglomerasi, pasti dilandasi dengan visi yang dimiliki oleh pemilik atau pimpinan perusahaan.

Visi menjadi semacam tujuan atau destinasi akhir yang terbayang-bayang dalam benak pemilik atau pimpinan perusahaan. Visi ini harus dibagi kepada orang-orang yang ada di perusahaan pada tingkat yang lebih bawah, agar mereka memiliki tujuan yang sama. Kemudian dibuatlah strategi bagaimana mencapai visi tersebut. Strategi jangka pendek, yang biasanya dijabarkan dan disebut action plan, dan juga jangka menengah dan jangka panjang. Dan untuk memastikan bahwa terjadi kemajuan dalam perjalanan perusahaan ditetapkanlah sebuah goal atau tujuan. Goal inilah yang akhirnya menjadi pegangan dan tolok ukur baik bagi atasan dalam mengukur keberhasilan anak buah, maupun anak buah dalam meraih prestasi.

Dalam praktiknya kebanyakan kita luput untuk memperhatikan, dalam menyusun strategi hanya didasari pemikiran sukses, tanpa penghalang, tanpa masalah. Tidak salah untuk bersikap positif dan optimistis, namun yang terjadi adalah bahwa setelah berjalan beberapa lama, ternyata kemajuan yang dicapai sangat lambat dan jauh dibawah atau meleset dari sasaran.

Mengapa?

Karena ternyata hari demi hari yang terjadi adalah bahwa para pelaku harus berjuang dalam menghadapi, menanggulangi, memecahkan dan menyelesaikan masalah yang datang silih berganti. Visi dan goal adalah urusan esok hari, sedangkan problem adalah urusan hari ini yang jika tidak diselesaikan atau ditanggulangi akan semakin melebar dan tidak mungkin ditanggulangi.

Dalam bukunya, “Stop Setting Goals,” Bob Biehl (1995) seorang konsultan manajemen, membahas hal ini. Menurutnya ada perbedaan kepentingan dan keinginan. Atasan lebih suka mengerjakan dan menetapkan goal bagi bawahannya dan tidak mau tahu, atau pura-pura tidak tahu, apapun yang menjadi problem bagi bawahannya. No matter what, I want you to reach this goal. Sebaliknya bagi bawahan, goal menjadi semacam ganjalan di ulu hati yang tiap hari menusuk-nusuk membuat mules dan mual.

Mereka lebih suka jika atasannya lebih menaruh perhatian dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Seperti biasa, sulit bagi bawahan untuk mengatur atasan, sebaliknya atasan akan mengalami kesulitan ketika ia tidak mau tahu dengan kesulitan yang dihadapi atasannya. Oleh karena itulah Bob Biehl menganjurkan agar pertama, dalam goal-setting melibatkan bawahan, setidaknya memberikan penjelasan apa dan mengapa perlu menetapkan goal tersebut.

Porsi dan tekanan sesi problem solving harus cukup banyak atau lama yang membuat bawahan merasa bahwa atasan mau tahu dan memperhatikan problem yang mereka (sebagai bawahan) hadapi dan merasa dibekali sehingga ketika problem muncul mereka kira-kira sudah tahu bagaimana cara menanggulanginya.

Dengan begitu mereka merasa ada beban untuk meraih goal, sekalipun tanpa pecut dari atasan. Stop setting goals and start problem-solving to reach and exceed your goal!